Langsung ke konten utama

Apresiasi ILUNI UI untuk Dr. FATHEMA

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pengurus Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) menilai lulusan Universitas Indonesia (UI) sejak zaman kemerdekaan hingga milenial saat ini telah berkiprah nyata dalam berbagai perjuangan serta pembangunan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Karya-karya nyata tersebut telah dirasakan manfaatnya bukan oleh bangsa Indonesia maupun masyarakat dunia.

"Peran dan Karya nyata alumni UI terasa sangat penting bukan hanya untuk UI, bangsa Indonesia tapi juga masyarakat dunia, "papar Ketua umum ILUNI UI Arief Budhi Hardono ketika memberikan sambutan di acara Pemberian Anugerah Apresiasi Karya Alumni UI, Rabu (7/2/2018) di Aula Imeri FKUI Salemba Jakarta.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Rektor UI Mohammad Anis, Menteri Negara Perencanaaan Pembangunan Nasional/Kepala Bapenas Bambang Sumantri Brojonegoro, Direktur Utama BCA yang juga Alumni UI Jahja Setiaatmaja, Ketua Alumni UI Eman Sulaeman Nasim, para alumni UI penerima Anugerah Apresiasi, guru besar, dekan serta dosen di lingkungan UI dan pengurus ILUNI Fakultas dan daerah.

Sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi atas karya nyata tersebut, pengurus ILUNI UI memberikan penghargaan Anugerah Apresiasi Karya Alumni UI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BERBENAH menjadi yang TERDEPAN

Kartini pasti tersenyum bangga melihat wanita Indonesia. Saat ini banyak sekali bermunculan pemimpin-pemimpin perempuan di berbagai bidang dengan ciri tersendiri. Diantara ratusan nama ada nama Fathema Djan Rachmat, perempuan Indonesia yang berprofesi sebagai dokter menjabat sebagai orang nomor satu di Rumah Sakit Pelni. Sebuah rumah sakit di bawah naungan P T Pelayaran Indone - sia (Persero) yang peletakan batu pertama dilakukan pada medio 1914 diatas lahan seluas 30.000 m2 dan diresmikan pada 21 April 1918 yang dulu disebut KPM Hospital. Perempuan kelahiran Palembang, 10 Januari 1964 ini menakhodai Rumah Sakit Pelni sejak tahun 2014. “Menjadi pemimpin itu tidak ha - nya memimpin sebuah organisasi tapi lebih dalam lagi adalah mem - bangun manusia,” ungkap dr. Fath biasa dia disapa. Ia tidak hanya me - lihat karyawan yang menjadi bawahannya dalam organiasi tapi juga melihat keluarga yang bergantung kepada karyawan tersebut. “Saya melihat take home pay yang diterima...

Perbaikan PELAYANAN RS berbasis LEAN MANAGEMENT

Setelah melewati tahun pertama implementasi INACBG di Indonesia, praktisi rumah sakit banyak sekali mendapat pelajaran berdasarkan pengalaman (learning by doing).  Dalam proses belajar yang terjadi secara massal dan pararel pada seluruh stake holder pelayanan kesehatan di Indonesia tersebut ada yang membawa organisasinya melalui tahun 2014 dengan gemilang, namun tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan.  Terutama dikaitkan dengan adaptasi terhadap prospective payment system . Niat baik para praktisi rumah sakit di Indonesia untuk berkontribusi dalam program JKN, tidak semua berbuah manis. Banyak sekali aturan perundangan yang mengamanatkan konsep kendali mutu kendali biaya dalam pelayanan kesehatan,baik yang dikemukakan eksplisit maupun implisit. Dari UUD 1945, UU 39 th 1999 tentang Hak asasi manusia, UU no. 40 th 2004 tentang SJSN, UU no. 24 th 2011 tentang BPJS, PP 101 th 2012 tentang PBI, PP 86 th 2013 tentang Kepesertaan tenaga kerja, Perpres 111 th 2013...

Implementing Malcolm Baldrige Excellence Framework to improve Hospital Services Quality : Lessons Learned From PELNI Hospital

Why Baldrige Execellence Framework (BEF) it could be so necessary? We will know for at least these three reason: It needed for performance measures hospital as a company and public service at once It comparing whether our company was better than another, which means in same industry that could be competitor or a feeder It has comprehensive approach to view healthcare service as a business unit toward different company in different field BEF does need as complementary tools in organization in order to get higher level of their performance. Instead of in hospital industry, especially in Indonesia, there are two organizations whose rules and constitutes about what hospital industry must fit in. First, KARS accreditation, which has “five star paripurna” as top goal within their 14 standards. And second, Joint Commission International, which has “gold seal” as top goal within their 15 standards. It depends on what level you want to be acknowledg...